timelinews.id - Harga minyak mentah dunia mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Kenaikan tajam ini dipicu oleh kepanikan pasar terhadap potensi pengetatan pasokan global, terutama setelah Tiongkok memutuskan untuk menyetop ekspor sejumlah produk bahan bakar.
Melansir pemberitaan Tirto.id, kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ketersediaan energi semakin meningkat setelah otoritas Tiongkok menghentikan pengiriman produk minyak mereka ke luar negeri, dengan pengecualian untuk wilayah Hong Kong dan Makau.
Langkah pembatasan pasokan ini tidak hanya datang dari Tiongkok. Di sisi lain, Rusia juga diketahui tengah memberlakukan kebijakan larangan ekspor bahan bakar jenis diesel yang dijadwalkan berlangsung hingga bulan Oktober ini. Kombinasi kebijakan dari dua raksasa energi tersebut memicu kekhawatiran serius terkait makin ketatnya pasokan bahan bakar di pasar internasional.
Kepanikan akan menipisnya suplai ini langsung berdampak pada pergerakan harga komoditas. Harga minyak dunia terpantau melonjak drastis, naik lebih dari 4 dolar AS per barel hanya dalam satu hari perdagangan.
Selain tertekan oleh sentimen penyetopan ekspor, lonjakan harga minyak juga didorong oleh memanasnya situasi geopolitik di Timur Tengah. Kabar mengenai langkah Amerika Serikat yang mengirimkan tambahan pasukan militer ke kawasan rawan konflik tersebut membuat pelaku pasar semakin cemas akan potensi gangguan distribusi dari negara-negara penghasil minyak utama.
Para analis memperingatkan bahwa kondisi ini membutuhkan perhatian serius. Jika konflik bersenjata di Timur Tengah terus tereskalasi dan negara-negara produsen mempertahankan kebijakan pembatasan ekspor, tekanan terhadap pasokan minyak akan semakin berat. Hal ini pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga energi secara berkelanjutan dan memicu kembali ancaman inflasi di berbagai belahan dunia.






