Lewati ke konten utama
timelinews

Malware Hirudo Incar 8 Aplikasi Bank di Indonesia

Pengguna ponsel Android di Indonesia perlu mewaspadai malware bernama Hirudo yang dirancang untuk mencuri informasi perbankan hingga mengambil alih kendali perangkat dari jarak jauh

3 menit baca
Ilustrasi Pembayaran Online (magnific.com/rawpixel.com)
Ilustrasi Pembayaran Online (magnific.com/rawpixel.com)

timelinews.id - Pengguna ponsel Android di Indonesia perlu mewaspadai malware bernama Hirudo yang dirancang untuk mencuri informasi perbankan hingga mengambil alih kendali perangkat dari jarak jauh. Malware ini diketahui menargetkan delapan aplikasi perbankan dari tujuh bank di Indonesia, termasuk melalui aplikasi pengganti yang telah dimodifikasi untuk melewati pemeriksaan keamanan tertentu.

Temuan tersebut diungkap perusahaan keamanan siber ThreatFabric dalam laporan yang dipublikasikan pada 14 Oktober 2026. Peneliti menemukan bahwa Hirudo tidak hanya berupaya mencuri informasi login, tetapi juga dapat mengumpulkan pesan SMS, memantau layar, dan mengakses kamera setelah memperoleh akses yang diperlukan.

Menyamar sebagai aplikasi belanja dan hiburan

Hirudo termasuk banking trojan sekaligus remote access trojan (RAT), yaitu malware yang dirancang untuk mencuri informasi finansial dan memungkinkan perangkat korban dikendalikan dari jarak jauh.

Menurut laporan ThreatFabric, malware ini disebarkan melalui aplikasi yang menyamar sebagai layanan belanja atau hiburan, di antaranya Shopora, 1V1 X, ZoyaTV, dan KoiShort. Aplikasi tersebut dapat terlihat normal, tetapi kemudian menampilkan pemberitahuan pembaruan palsu yang mengarahkan pengguna memasang komponen berbahaya.

Hirudo juga berusaha memperoleh izin Accessibility pada Android. Fitur ini sejatinya dirancang untuk membantu pengguna mengakses perangkat, tetapi dapat disalahgunakan malware untuk membaca informasi di layar dan menjalankan tindakan tertentu tanpa sepengetahuan pemilik ponsel. <Cite refs={["turn182434news13","turn182434search1"]}/>

Bisa mengganti aplikasi bank resmi

Hal yang membedakan Hirudo dari pencuri kredensial biasa adalah kemampuannya mencoba mengganti aplikasi perbankan resmi dengan versi yang telah dimodifikasi.

ThreatFabric menjelaskan, “Hirudo berupaya mengganti aplikasi perbankan itu sendiri dengan salinan yang dimodifikasi, yang secara diam-diam menonaktifkan pemeriksaan keamanan milik bank dari dalam aplikasi.”

Peneliti menemukan delapan aplikasi perbankan Indonesia yang telah disiapkan versi penggantinya. Malware menggunakan teknik tertentu untuk memanipulasi pemeriksaan keamanan aplikasi, termasuk pemeriksaan tanda tangan digital dan Google Play Integrity.

Namun, proses penggantian tersebut tidak selalu berhasil secara otomatis. Android memiliki mekanisme yang dapat menghalangi pemasangan aplikasi pengganti apabila tanda tangan digitalnya berbeda. Karena itu, temuan delapan aplikasi sasaran tidak berarti seluruh aplikasi tersebut telah berhasil dibajak atau semua bank terkait mengalami pembobolan.

Pengguna dapat mengurangi risiko dengan mengunduh aplikasi hanya dari sumber resmi, menghindari berkas APK dari tautan tidak dikenal, serta tidak memberikan izin Accessibility kepada aplikasi yang tidak membutuhkannya.

Pengguna juga disarankan mengaktifkan Google Play Protect dan memperbarui sistem operasi secara berkala. Jika aplikasi perbankan tiba-tiba meminta pengguna menghapus aplikasi resmi lalu memasang pembaruan dari sumber lain, permintaan tersebut patut dicurigai.

Apabila ponsel diduga terinfeksi, hentikan sementara aktivitas perbankan melalui perangkat tersebut. Gunakan perangkat lain yang tepercaya untuk menghubungi bank melalui saluran resmi, mengamankan akun, dan mengganti kredensial yang mungkin telah terpapar.

Hingga laporan tersebut diterbitkan, jumlah korban Hirudo yang sebenarnya belum diketahui. Ancaman ini menunjukkan bahwa keamanan transaksi digital tidak hanya bergantung pada sistem perbankan, tetapi juga pada keamanan perangkat yang digunakan nasabah.

Bagikan

Komentar