timelinews.id - Pemerintah menyiapkan pembangunan tiga pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging yang ditargetkan mulai dibangun pada 2027. Setiap fasilitas diperkirakan membutuhkan investasi awal Rp200 miliar, dengan biaya yang berpotensi mencapai Rp250 miliar untuk pabrik yang juga mengolah daging.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan rencana tersebut merupakan bagian dari upaya memperkuat industri peternakan nasional, memperluas pasar hasil produksi peternak, dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Dalam keterangan yang diberitakan ANTARA pada 10 Oktober 2026, Amran menyebut pemerintah telah berkoordinasi dengan BP BUMN dan Kementerian Perdagangan untuk menyiapkan pembangunan fasilitas tersebut. Proyek akan dilanjutkan dengan studi kelayakan atau feasibility study (FS).
Pemerintah berharap pembangunan dapat dimulai pada 2027 dan diselesaikan dalam waktu sekitar 1,5 hingga dua tahun setelah dimulai. Namun, lokasi, kapasitas produksi, dan pembagian fasilitas untuk masing-masing jenis produk masih perlu dipastikan melalui tahapan perencanaan.
Impor Tepung Telur Ditargetkan Berhenti
Amran menyatakan pemerintah menargetkan penghentian impor tepung telur setelah pabrik beroperasi. Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan industri dalam negeri dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Pembangunan fasilitas pengolahan juga diarahkan untuk mengatasi persoalan ketika produksi telur dan daging ayam melimpah, tetapi penyerapan pasar terbatas. Produk yang tidak terserap dalam bentuk segar berpotensi diolah menjadi tepung sehingga memiliki masa simpan dan kegunaan yang lebih luas.
Persoalan penyerapan tersebut sebelumnya turut disoroti pelaku usaha peternakan. Dalam pemberitaan Bisnis.com pada 7 Oktober 2026, produsen telur mengeluhkan kenaikan harga pakan dan meminta pemerintah membantu menyerap kelebihan pasokan telur.
Kondisi itu menunjukkan bahwa persoalan peternakan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga biaya input dan kepastian pasar. Industri pengolahan dapat menjadi salah satu saluran untuk menyerap hasil produksi, meskipun efektivitasnya akan bergantung pada kapasitas fasilitas dan kebutuhan pembeli.
Investasi Masih Tahap Persiapan
Pemerintah memperkirakan investasi awal mencapai Rp200 miliar untuk setiap pabrik. Kebutuhan tersebut berpotensi meningkat menjadi Rp250 miliar apabila fasilitas juga mencakup pengolahan daging.
Pemerintah juga membuka peluang keterlibatan swasta dalam pembangunan. Skema kerja sama dan kebutuhan pendanaan masih memerlukan pembahasan lebih lanjut setelah studi kelayakan dilakukan.
Selain pembangunan pabrik, keberhasilan program akan bergantung pada ketersediaan bahan baku, efisiensi pengolahan, standar kualitas produk, dan kemampuan bersaing dengan produk impor.
Target penghentian impor tepung telur juga belum berarti impor telah dihentikan. Kebijakan tersebut masih bergantung pada realisasi pembangunan dan kemampuan produksi dalam negeri memenuhi kebutuhan pasar.






