timelinews.id - Nilai tukar Rupiah di pasar spot mengawali perdagangan Jumat (2/10/2026) dengan penguatan tipis. Mata uang Garuda berada di level Rp 17.947 per dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data Bloomberg, Rupiah terapresiasi 19 poin atau sebesar 0,11 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya, Kamis (1/10/2026), yang berada di Rp 17.966 per dolar AS.
Meskipun dibuka menguat, pergerakan Rupiah hari ini diprediksi masih akan dibayangi oleh berbagai sentimen, baik domestik maupun global.
Dari sisi domestik, para pelaku pasar sedang mencerna dampak dari isu perombakan (reshuffle) kabinet dan implementasi kebijakan short selling. Selain itu, data makroekonomi yang dirilis beberapa waktu lalu seperti data manufaktur, neraca perdagangan, dan tingkat inflasi juga menjadi fokus perhatian. Di pasar obligasi domestik, imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun terpantau mengalami kenaikan menjadi 7,159 persen pada perdagangan Kamis, menunjukkan adanya tekanan pada harga instrumen tersebut.
Sementara itu, sentimen eksternal memberikan beban yang cukup berat. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS (US Treasury) menjadi salah satu faktor utama yang menekan mata uang emerging market seperti Rupiah. Pada hari Kamis, yield US Treasury tenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh level 5,34 persen, yang merupakan titik tertingginya sejak tahun 2002, sebelum akhirnya ditutup di kisaran 5,26 persen. Tingginya imbal hasil aset dolar AS ini berpotensi menarik minat investor keluar dari pasar negara berkembang.
Fokus pasar ke depan juga akan tertuju pada rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti klaim pengangguran awal, ISM Manufacturing, dan data tenaga kerja (non-farm payrolls). Data-data ini akan memberikan petunjuk bagi bank sentral AS (The Fed) terkait arah kebijakan suku bunga mereka di masa mendatang.
Selain itu, eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah juga menjadi sorotan tajam. Konflik yang memanas ini berpotensi mengganggu rantai pasok energi global dan kembali memicu lonjakan harga komoditas energi dunia. Pada perdagangan Kamis, harga minyak mentah global melonjak signifikan lebih dari 4 dolar AS per barel, didorong oleh kekhawatiran gangguan pasokan setelah Tiongkok dikabarkan menghentikan ekspor sejumlah produk turunannya, ditambah laporan adanya tambahan penempatan pasukan militer AS di wilayah konflik tersebut.
Kombinasi antara tekanan yield obligasi AS dan potensi inflasi yang didorong oleh tingginya harga energi diperkirakan akan memberikan tekanan terhadap pergerakan Rupiah dalam jangka pendek.






