Lewati ke konten utama
timelinews

Peretas Manfaatkan AI, Ancaman Digital Meningkat

Kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan untuk menjalankan serangan siber secara lebih otomatis

2 menit baca
Ilustrasi AI (Pixabay.com/tungnguyen0905)
Ilustrasi AI (Pixabay.com/tungnguyen0905)

timelinews.id - Kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan untuk menjalankan serangan siber secara lebih otomatis. Laporan perusahaan keamanan siber CrowdStrike pada 21 Oktober 2026 mengungkap empat kelompok peretas yang menggunakan agen AI untuk membantu mengambil keputusan dan menjalankan operasi intrusi digital.

Penelitian yang mencakup aktivitas pada Mei hingga Agustus 2026 itu menemukan bahwa para pelaku menggunakan AI bukan hanya untuk membuat kode, tetapi juga membantu menjalankan sejumlah tahapan serangan dengan campur tangan manusia yang lebih terbatas.

Domain Pemerintah Indonesia Jadi Target

Salah satu kelompok yang diteliti merupakan aktor berbahasa Indonesia. Menurut CrowdStrike, kelompok tersebut menggunakan 819 skills atau kemampuan tambahan, sebagian besar berasal dari repositori publik GitHub, untuk membantu menjalankan operasi melalui Claude Code.

Meski dinilai memiliki kemampuan teknis lebih terbatas dibandingkan kelompok lain yang diteliti, aktor tersebut tetap berhasil mengompromikan sejumlah domain pemerintah Indonesia, satu domain pemerintah Bangladesh, dan beberapa target sektor swasta.

Temuan ini tidak berarti seluruh sistem pemerintah yang menjadi target berhasil ditembus. Laporan tersebut juga tidak menyimpulkan bahwa pelaku mewakili pemerintah Indonesia.

AI Mempercepat Operasi Serangan

CrowdStrike menjelaskan bahwa agen AI dapat membantu pelaku melakukan pengintaian, memilih tindakan berikutnya, dan menjalankan perintah secara otomatis. Sejumlah kelompok juga berupaya melewati pengaman model AI dengan membingkai aktivitas berbahaya sebagai pengujian keamanan yang sah.

Peneliti menilai AI berpotensi menurunkan hambatan teknis bagi pelaku dengan kemampuan terbatas. Namun, keberhasilan serangan tetap dipengaruhi kondisi sistem target dan kelemahan keamanan yang belum ditangani.

Pengamanan Sistem Jadi Kunci

Temuan tersebut menjadi pengingat bagi perusahaan dan instansi untuk memperkuat perlindungan digital. Langkah yang dapat dilakukan antara lain memperbarui perangkat lunak, menerapkan autentikasi multifaktor, membatasi hak akses, serta memantau aktivitas jaringan yang mencurigakan.

CrowdStrike memperkirakan penggunaan agen AI dalam serangan siber berpotensi meningkat seiring berkembangnya teknologi dan meluasnya akses terhadap perangkat pendukungnya. Karena itu, pengamanan tidak cukup hanya mengandalkan pembatasan pada model AI, tetapi juga perlu disertai pertahanan sistem yang konsisten.

Bagikan

Komentar