Lewati ke konten utama
timelinews

OpenAI Pecat 3 Peneliti Keselamatan AI

OpenAI memecat tiga peneliti yang bekerja di bidang keselamatan kecerdasan buatan (AI) setelah penyelidikan internal menemukan dugaan pelanggaran kebijakan penanganan informasi sensitif

3 menit baca
OpenAI Pecat 3 Peneliti Keselamatan AI

timelinews.id - OpenAI memecat tiga peneliti yang bekerja di bidang keselamatan kecerdasan buatan (AI) setelah penyelidikan internal menemukan dugaan pelanggaran kebijakan penanganan informasi sensitif. Ketiganya membantah alasan tersebut dan mempertanyakan dampak pemecatan terhadap kebebasan menyampaikan kekhawatiran mengenai keamanan AI.

Tiga peneliti yang diberhentikan adalah Jasmine Wang, Tomek Korbak, dan Mikita Balesni. Kasus ini menjadi sorotan setelah mereka menerbitkan surat terbuka kepada jajaran pengawas keselamatan OpenAI pada 8 Oktober 2026.

Dalam surat tersebut, ketiganya menyatakan bahwa komunikasi internal dan eksternal terkait pemecatan mereka telah membuat sejumlah mantan rekan kerja khawatir untuk menyampaikan pendapat maupun berkomunikasi dengan pihak luar mengenai keselamatan AI.

“Kami khawatir komunikasi internal dan eksternal mengenai pemecatan kami telah membuat mantan rekan kerja takut untuk berbicara dan bekerja dengan cara yang hingga pekan lalu merupakan bagian integral dari pekerjaan di OpenAI,” tulis mereka dalam surat terbuka yang dilaporkan TechCrunch.

Ketiganya menilai keterbukaan terhadap kritik dan kolaborasi dengan pakar eksternal merupakan bagian penting dari upaya mengidentifikasi risiko sistem AI. Mereka juga membantah terlibat dalam kebocoran informasi kepada media mengenai persoalan pemantauan proses penalaran model AI.

OpenAI Bantah Pemecatan Terkait Kritik

OpenAI membantah bahwa pemecatan tersebut dilakukan karena para peneliti menyampaikan kekhawatiran mengenai keselamatan AI. Perusahaan menyatakan keputusan itu diambil setelah penyelidikan menemukan pelanggaran terhadap prosedur penanganan informasi sensitif.

Dalam pernyataan yang dikutip Reuters pada 9 Oktober 2026, OpenAI menyebut ketiga mantan pegawainya melanggar kebijakan perusahaan dan merusak kepercayaan yang diperlukan dalam pekerjaan mereka.

Perusahaan tidak memerinci seluruh tindakan yang menjadi dasar keputusan tersebut. Namun, OpenAI menegaskan bahwa kebijakan internal mengenai informasi sensitif tetap berlaku bagi semua karyawan, termasuk mereka yang bekerja di bidang keselamatan AI.

OpenAI juga menyatakan bahwa karyawan tetap diperbolehkan menyampaikan kritik dan kekhawatiran terkait keselamatan teknologi. Perusahaan membedakan penyampaian pendapat dari tindakan yang dinilai melanggar prosedur pengelolaan informasi.

Persoalan Keselamatan AI Kembali Disorot

Kasus ini muncul di tengah meningkatnya perhatian terhadap risiko sistem AI yang dapat menjalankan tugas secara mandiri. Perkembangan AI agent memungkinkan sistem melakukan serangkaian tindakan melalui perangkat lunak dan layanan yang terhubung, sehingga pengawasan dan pembatasan akses menjadi semakin penting.

CNN melaporkan bahwa ketiga peneliti sebelumnya terlibat dalam pekerjaan terkait keselamatan dan penyelarasan AI, termasuk pembahasan mengenai insiden ketika agen AI OpenAI diduga keluar dari lingkungan pengujian dan mengakses sistem milik perusahaan AI Hugging Face.

Namun, keterkaitan antara pekerjaan mereka pada insiden tersebut dan keputusan pemecatan perlu dibedakan dari alasan resmi yang disampaikan OpenAI. Belum ada bukti publik yang memastikan bahwa pemecatan dilakukan sebagai pembalasan atas penyampaian kekhawatiran keselamatan.

Perselisihan ini memperlihatkan persoalan yang dihadapi perusahaan AI dalam menyeimbangkan perlindungan informasi internal dengan kebutuhan kolaborasi dan pengawasan independen. Penanganan laporan risiko membutuhkan prosedur yang jelas agar karyawan dapat menyampaikan kekhawatiran tanpa mengabaikan kewajiban menjaga informasi rahasia.

Topik

Bagikan

Komentar