Lewati ke konten utama
timelinews

IHSG Rebound 3,62 Persen Usai BEI Bertemu MSCI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 3,62% ke level 5.177,56

Diperbarui 2 menit baca
Ilustrasi Indeks Harga Saham (idx.co.id)
Ilustrasi Indeks Harga Saham (idx.co.id)

timelinews.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 3,62% ke level 5.177,56 pada perdagangan Selasa (20/10/2026) pukul 10.10 WIB. Penguatan tersebut terjadi setelah Bursa Efek Indonesia (BEI) bertemu dengan penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI) untuk membahas kekhawatiran terhadap transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia.

Berdasarkan data yang diberitakan Katadata, kapitalisasi pasar saham Indonesia meningkat menjadi Rp9.025 triliun, sedangkan nilai transaksi mencapai Rp8,62 triliun pada waktu tersebut. Angka itu merupakan data intraday, bukan hasil penutupan perdagangan.

Penguatan IHSG terjadi setelah pasar saham Indonesia mengalami tekanan tajam selama dua hari perdagangan. Pada Jumat (16/10), IHSG anjlok 11,57% ke level 5.185,10. Indeks kembali melemah 3,64% pada Senin (19/10), sehingga tekanan jual memicu kekhawatiran investor terhadap prospek pasar saham nasional.

BEI siapkan perubahan komposisi indeks

Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan bursa akan mengecualikan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi dari perhitungan indeks acuan. Menurut Reuters, saham-saham yang terdampak memiliki bobot sekitar 18% dari total komposisi indeks.

“Kami melakukan yang terbaik untuk pasar kami,” kata Jeffrey, sebagaimana dikutip Reuters. Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut diharapkan membuat pergerakan indeks lebih mencerminkan kondisi pasar.

BEI juga mengubah batas penurunan harga saham harian melalui mekanisme auto rejection bawah (ARB) dari 15% menjadi 7%. Kebijakan tersebut diterapkan untuk meredam volatilitas setelah IHSG mengalami penurunan tajam pada perdagangan sebelumnya.

Ancaman perubahan status MSCI

Gejolak pasar bermula setelah MSCI mengumumkan konsultasi mengenai kemungkinan mengubah klasifikasi Indonesia dari emerging market atau pasar berkembang menjadi standalone market atau pasar mandiri.

MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham, perilaku perdagangan terkoordinasi, dan penegakan aturan pasar. Perubahan klasifikasi tersebut berpotensi membuat saham Indonesia dikeluarkan dari sejumlah indeks global yang menjadi acuan investor internasional. Namun, usulan itu belum menjadi keputusan final.

Reuters melaporkan pasar saham Indonesia kehilangan sekitar US$82 miliar nilai kapitalisasi selama dua hari penurunan pada Jumat dan Senin. Meski IHSG kembali menguat pada Selasa, indeks masih menghadapi tekanan setelah penurunan besar pada perdagangan sebelumnya.

Investor masih mencermati reformasi

Penguatan IHSG menjadi perkembangan positif setelah aksi jual besar-besaran. Namun, kenaikan dalam satu sesi belum cukup untuk memastikan sentimen pasar telah pulih sepenuhnya.

Pelaku pasar masih mencermati pelaksanaan reformasi BEI dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk peningkatan transparansi kepemilikan saham dan penegakan aturan terhadap dugaan pelanggaran di pasar modal.

Perkembangan konsultasi MSCI dan respons investor asing akan menjadi faktor penting yang memengaruhi arah perdagangan selanjutnya. Karena itu, pergerakan IHSG pada sesi berikutnya tetap perlu dipantau sebelum menyimpulkan bahwa pasar telah memasuki tren pemulihan.

Bagikan

Komentar